Rabu, 21 Februari 2018
Rabu, 30 Agustus 2017
09.20
Unknown
Indonesia Bangkit Dari Penjajahan Digital
Kemerdekaan di era digital. Membaca
kalimat ini, saya jadi teringat dengan salah satu pesan bung Karno, kurang
lebih seperti ini : ”Anak cucuku, perjuangan kami hari ini masih tidak seberapa
dengan perjuanganmu kelak. Hari ini kami berjuang melawan bangsa penjajah, namun
kelak perjuangan kalian lebih berat karena harus melawan bangsa sendiri”.
Berbicara mengenai era digital,
berarti membahas mengenai dunia tak terbatas yang terus berkembang dalam banyak
sektor. Era digital berarti era kejayaan teknologi Informasi, dimana teknologi
informasi dan kecanggihannya memudahkan pekerjaan manusia dan membantu kita
dalam kehidupan sehari-hari.
Mau tidak mau, fenomena digital
harus dihadapi oleh seluruh bangsa di dunia yang menginginkan kemajuan. Tidak
terkecuali bagi bangsa kita tercinta, tanah air Indonesia. Negeri dengan 1001 keragaman
suku bangsa dan budaya ini tidak terlepas dari pengaruh arus digital.
Pembangunan digital mulai terlihat disana-sini. Pendidikan, ekonomi,
infrastruktur, sosial bahkan budaya.
Pemerintahan saat ini juga terlihat semakin beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ada banyak yang berubah dari Indonesia sepuluh tahun yang lalu, mulai dari
Facebook sampai e-KTP, Bukalapak hingga Go-Jek.
Teknologi digital memang alat yang hebat,
ibarat tongkat sihir yang dapat menyulap berbagai masalah menjadi kemudahan
dalam sekali ayun. Sebuah fakta yang tidak bisa disangkal. Namun, seperti dua
sisi mata uang, dimana ada dampak positif pasti ada dampak negatif. Era digital
tidak hanya menawarkan kemudahan dan kecanggihan saja, melainkan bencana bagi
orang-orang yang tidak dapat menggunakannya secara bijaksana. Sebut saja
penipuan, pencurian, kabar bohong, ujaran kebencian dan istilah-sitilah lain
yang merujuk pada satu induk permasalahan, kejahatan cyber.
Di awal kemunculannya, kejahatan
cyber hanya berputar pada masalah keamanan sistem informasi, seperti peretasan
situs, pembobolan ATM, penyadapan dan kejahatan ‘lugu’ lainnya. Namun
belakangan, modus kejahatan cyber mulai sedikit berevolusi. Kini bermunculan
generasi baru kejahatan cyber, kabar bohong (hoax) dan pencemaran nama baik
melalui Internet dan dunia digital.
Masih segar di ingatan “perang
saudara” saat menjelang pilkada gubernur Jakarta tahun 2015 lalu, dimana rakyat
yang satu dengan lainnya saling menghujat, saling mejatuhkan satu sama lain
melalui media digital. Internet digunakan sebagai alat menebarkan kebencian,
mengadu domba dan pembunuhan karakter secara tak kasat mata. Sampa disini,
terbukti sudah apa yang dikatakan oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu, bahwa
kita akan berperang melawan bangsa sendiri.
Namun kejahatan digital tak
berhenti sampai disitu saja. Muncul banyak perilaku negatif lainnya yang
menggunakan teknologi informasi khususnya media social. Sebut saja kejahatan
pornografi melalui Facebook, kasus plagiarisme siswi SMA, hingga yang masih
hangat diperbincangkan, industri pembuat kabar bohong Saracen. Dibalik itu
semua, masih banyak ribuan kasus kecil yang kurang mendapat perhatian karena dianggap
tidak menghebohkan.
Akhirnya, teknologi informasi
yang awalnya dibuat untuk tujuan mulia beruah menjadi malapetaka. Terbukti
sudah apa yang dikatakan oleh proklamator kita dulu. Sebuah masa telah datang,
zaman yang bisa disebut “Penjajahan Digital”.
Melihat ini semua kita tidak bisa
berpangku tangan begitu saja. Mari kita rebut kemerdekaan digital yang
sesungguhnya. Merdeka dari penipuan, merdeka dari adu domba, merdeka dari
bodohnya penggunaan teknologi digital. Bersama kita gunakan teknologi informasi
sebaik mungkin dengan bijaksana. Kita sadarkan orang-orang yang menggunakan
teknologi semaunya, kita bangun bangsa yang kuat, eratkan kembali rantai
nasionalisme. Mewujudkan kemerdekaan di era digital.
Seperti kata Bung Karno, tidaklah
mudah melawan kawan sendiri. Kemajemukan yang telah disalahgunakan harus kita
rekatkan kembali dengan ideologi bangsa ini, Pancasila. Sekali lagi, hal ini
tidak akan mudah. Menghentikan tangan-tangan jahil perusak bangsa. Namun jika
dibiarkan, perjuangan para pahlawan akan sia-sia. Darah dan air mata yang telah
dikorbankan untuk negeri ini akan tebuang percuma.
Entah untuk berapa lama kita akan
berjuang, melawan ombak globalisasi dan digitalisasi. Namun ini adalah
kesempatan kita untuk membuktikan kepada generasi terdahulu bahwa kita bisa
mempertahankan kemerdekaan ini. Sekali lagi bangsa ini harus berjuang, namun
kali ini berjuang melawan perpecahan, membangun dunia digital yang sebenarnya.
Demi Indonesia yang maju, modern dan berteknologi digital. Mari wujudkan
kemerdekaan di era digital. Diragahyu Indonesia yang ke-72. Merdeka!
Artikel ini diikutsertakan dalam
lomba blog PalingBaru #LombaBlogPalingBaru
Rabu, 04 November 2015
20.02
Unknown
Saya seorang siswa SMK jurusan Multimedia di Jember yang sudah melakukan Prakerin di salah satu Studio Shooting.Kegiatan Prakerin saya lakukan selam 3 bulan.Setelah selesai melaksanakan kegiatan Prakerin saya diwajibkan membuat laporan kegiatan Prakerin di sekolah.
Berikut ini saya share leporan waktu saya Prakerin dulu.Silakan didownload!
File Word 2007
Download
Berikut ini saya share leporan waktu saya Prakerin dulu.Silakan didownload!
File Word 2007
Download
19.13
Unknown
SEMARAK JALAN SEHAT
POLIJE
Oleh Arif Habibi
Minggu 25 Oktober 2015 kemarin
terasa sedikit berbeda di Politeknik negeri Jember.Kampus yang terletak di
jalan Mastrip ini mengadakan acara jalan sehat bagi mahasiswa dan karyawan
serta lomba mewarnai tingkat TK dan SD.Acara ini digelar dalam rangka
memperingati Dies Natalies Politeknik Negeri Jember yang ke 27.Acara yang
berlangsung dari pukul 6 pagi hingga pukul 11 siang ini dihadiri ribuan
perserta jalan sehat dan lomba mewarnai.OM Polije dan Intan D’academypun tak
mau ketinggalan memeriahkan acara yang diadakan setahun sekali ini.
Kegiatan Jalan Sehat dimulai dengan
berjalan mengelilingi kampus Politeknik Negeri Jember melaui area lahan praktek
pertanian,jalan Danau Toba,jalan Mastrip hingga kembali ke kampus.Beberapa UKM
seperti UKM Pencak Silat dan Kotak juga menyemarakkan acara ini.Saat pengundian
hadiah merupakan saat-saat yang paling dinantikan oleh seluruh mahasiswa dan
karyawan yang mengikuti acara jalan sehat ini.Tak tanggung-tanggung,puluhan
hadiah menarik mulai dari tas ransel,sepeda hingga Notebook disiapkan panitia
bagi peserta yang beruntung.Dengan diselingi pertunjukan music,peserta rela
menunggu pengundian hadiah demi dorprize ysng ditawarkan sambil menikmati aneka
jajanan dan barang lainnya yang dijajakan.
Ada pemandangan menarik pada saat
acara pengundian hadiah berlangsung.Beberapa wanita cantik menyedot perhatian
mahasiswa yang sedang duduk santai.Mereka adalah mahasiswi pertukan pelajar
yang berasal dari negeri Gajah Putih,Thailand.Beberapa mahasiswi itu melihat-lihat
stand penjualan souvenir yang menawarkan banyak produk kreatif.Nampaknya
merekapun menikmati jalannya acara ini.
Acara meriah inipun berakhir pukul
11 siang.Mahasiswa serta karyawan kembali ke rumah masing-masing dengan membawa
doorprize dan kenangan bahagia.
19.07
Unknown
MEMBONGKAR AKAR MASALAH
BIDIK MISI
Oleh Arif Habibi
Pendidikan merupakan salah satu
hak mutlak bagi tiap orang.Hak tentang pendidikan tertuang dalam pembukaan UUD
1945 yang bebunyi “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.Artinya negara mempunyai
kewajiban untuk memberikan pendidikan terhadap seluruh warga negaranya.Atas
tanggung jawab tersebut,pemerintah melalui Kementerian Riset,Teknologi dan
Pendidikan Tinggi menggelontorkan sejumlah dana APBN untuk membantu mahasiswa
yang kurang mampu melalui Bidik Misi.
Dengan harapan untuk dapat
memberikan kesempatan pendidikan setinggi-tingginya kepada seluruh rakyat,pemerintah
rela menyumbangkan trilyunan dana APBN
kepada puluhan ribu mahasiswa ekonomi lemah.Program ini layak diacungi jempol
karena kehadirannya yang mampu membawa
angin segar bagi mahasiswa dan dapat mendongkrak minat pendidikan
masyarakat.Namun program yang digadang-gadang mampu membawa perubahan di masa
depan ini juga tidak luput dari cacat.
Program pemerintah yang baru dijalankan
5 tahun yang lalu ini meninggalkan banyak masalah yang ‘berceceran’. Bila ditelusuri
ke belakang,maka akan muncul permasalahan yang rumit seperti ketidakkompetennya
mahasiswa Bidik Misi,sistem manajemen yang kusut,dan seleksi yang tidak tepat.Jika
dibiarkan,hal ini berpotensi akan menimbulkan masalah baru yang lebih global
seperti Korupsi,Kepincangan sosial hingga mengancam masa depan generasi penerus
bangsa.Lama-kelamaan,Bidik Misi yang asal-asalan akan menjadi ‘bom waktu’
disaat kerusakan bangsa dikarenakan oleh tingkah rakyatnya sendiri.
Untuk menemukan permasalahan
bidik misi tidaklah sulit.Jika kita mencari di Google.com dengan keyword
“Permasalahan Bidikmisi” maka akan muncul setumpuk artikel yang mengulas
mengenai pahit getirnya program ini.Pangkal masalah bidik misi bermula dari
anggapan bahwa semakin banyak mahasiswa suatu Perguruan Tinggi,maka semakin
berkualitas Perguruan Tinggi tersebut. Ibarat sebuah mantra kutukan,anggapan
yang tidak tepat ini akan memunculkan buntut permasalahan,karena berdasarkan UU
no 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa semua perguruan
tinggi yang bekerja sama dalam program Bidikmisi harus menyediakan setidaknya
20 persen dari keseluruhan jumlah mahasiswa baru.Alhasil,lembaga Perguruan
Tinggipun harus memutar otak untuk mengisi kuota mahasiswa Bidikmisinya.
Melonggarkan proses seleksi
maupun proses verifikasi dilakukan sebagai taktik untuk memenuhi kuota yang
telah ditentukan.Mata rantai masalah terus berlanjut.Sistem seleksi yang
asal-asalan akan menciptakan calon mahasiswa
penerima bidik misi yang tidak tepat sasaran.Akhirnya,hal ini hanya akan
menimbulkan efek domino dengan munculnya paradigma negatif dari banyak pihak
mengenai gagalnya program yang menelan banyak dana anggaran ini.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa
program Bidik misi merupakan program pertisius yang dapat mengubah nasib bangsa
di masa yang akan datang.Akan tetapi untuk mewujudkannya perlu penanganan yang
serius dan peran serta banyak kalangan.Kita hanya bisa berharap semoga semua
pihak yang terkait dapat berintropeksi diri dan saling membenahi agar program
Bidikmisi ini dapat benar-benar mensejahterakan rakyat Indonesia sesuai
slogannya “Menggapai asa, memutus rantai kemiskinan”
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter